Ketua Umum KORIKA Jadi Pembicara pada Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026, Dorong AI Indonesia yang Aman, Tepercaya, dan Berdaulat

Liputan Media

Jakarta – Ketua Umum KORIKA, Prof. Dr. Hammam Riza, hadir sebagai pembicara dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI). Mengusung semangat kolaborasi lintas sektor, DEAL 2026 menjadi wadah gotong royong yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, investor, startup, UMKM, komunitas, dan pemerintah daerah dalam satu ruang kolaborasi untuk menghasilkan aksi nyata dalam pengembangan ekosistem digital Indonesia. Berdasarkan paparannya, Prof. Hammam menegaskan bahwa AI Indonesia harus tumbuh cepat, namun tetap aman, tepercaya, inklusif, dan berdaulat.

Acara ini dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang menekankan pentingnya semangat gotong royong sebagai fondasi transformasi digital nasional. “Karena semangat gotong royong menjadi nilai Indonesia sejak lahir sebagai negeri. Gotong royong adalah identitas asli kita yang kini harus kita bawa ke ranah digital melalui gerakan Merajut Solidaritas Digital Indonesia,” ujar Meutya. Sejalan dengan tema tersebut, Prof. Hammam memaparkan pentingnya menyelaraskan inovasi, etika, dan kedaulatan dalam pengembangan AI nasional. Menurutnya, pertanyaan utama bukan hanya apa yang dapat dilakukan AI, tetapi juga AI seperti apa yang ingin digunakan dan dibangun oleh Indonesia.

Dalam presentasi bertajuk “Future AI and Beyond”, Prof. Hammam menjelaskan bahwa Indonesia memerlukan peta jalan AI menuju 2030 yang ditopang oleh kolaborasi multihelix antara pemerintah, industri, akademisi, asosiasi, media, investor, serta diaspora Indonesia. Ia juga menyoroti pentingnya membangun AI Safety Assurance melalui regulasi berbasis risiko, evaluasi model, pengawasan implementasi, hingga mekanisme pelaporan insiden. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap AI hanya dapat dibangun melalui tata kelola yang kuat dan terukur. “AI safety bukan rem inovasi — ia adalah infrastruktur kepercayaan untuk adopsi AI nasional,” tegas Prof. Hammam.

Menutup paparannya, Prof. Hammam mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan DEAL 2026 bukan sekadar forum kesepakatan, melainkan mesin orkestrasi ekosistem AI nasional yang menghasilkan implementasi nyata. Melalui lima gerakan nasional yang diusulkan—mulai dari baseline AI safety nasional, sandbox dan evaluasi AI, audit dan pelaporan insiden, pengembangan AI lokal untuk sektor prioritas, hingga penguatan talenta dan literasi AI—Indonesia diharapkan mampu menjadi bukan hanya pengguna, tetapi juga produsen nilai, standar, talenta, dan solusi AI dunia. Sebagaimana pesan penutup yang disampaikannya, “Mari berkolaborasi mengamankan masa depan kecerdasan artifisial demi kedaulatan Indonesia.”

en_USEnglish

Climate & Disease Dashboard

Pantau penyebaran penyakit berbasis cuaca dan iklim.
Platform --Digital-Twins__ kami menyajikan data real-time dan analisis cerdas untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia — membantu pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.